Asifa masuk ke dalam ruangan tempat Syamsuri, kakeknya, di rawat. Kakek menggapaikan tangannya pada Asifa. Asifa mendekat. "Ya, Kek," Asifa berdiri di dekat ranjang tempat kakeknya berbaring. "Aku ingin mendengar jawabanmu, Sifa." Suara kakek terdengar sangat lirih. Tatapan matanya menyiratkan sebuah harapan. Asifa menatap mata Kakeknya, mata tua itu seperti memohon kepadanya. Kepala Asifa menunduk dalam, masih ada kebimbangan, meski ia berkata pada Aska, kalau ia sudah memutuskan untuk memenuhi permintaan kakeknya. Namun keraguan tak bisa ia tepiskan begitu saja "Sifa?" suara lirih, dan tatapan sendu itu meluruhkan kebimbangan Sifa. Ia percaya, kakeknya tidak akan memilihkan calon suami yang salah untuknya. Ia percaya, kakek pasti ingin yang terbaik untuknya. Untuk kebahagiaan, dan m

